Terima kasih tak terkira, Ibu :)
Cukup. Ya. Sepertinya sudah IA cukupkan kata ‘kita’ sampai di sini.
Saya? Apakah berhenti? Tidak. Sepertinya memang saatnya mengubah bentuk, tapi tanpa melunturkan esensi rasa. Kembali membenarkan bentuknya. Karena memang tidak ada rasa yang harus hilang -atau dihilangkan- dari sini.
Karena esensinya karena Alloh. Apapun keputusanNYA, bersandar padaNYA.
Yaa Muqallibal Quluub, tsabbit qalbi ‘ala diinik..
[video]
[video]
Allah menghadirkan rasa ragu, mungkin DIA sedang mempertanyakan, ’adakah kontribusi untukKU dalam rencanamu?’ — Husna Hanifah’s FB status
[video]
Semoga aku menjadi pohon yang ditebang kemudian digunakan.
— Abu Bakr ash-Shiddiq r.a.
Ini titik kekecewaan terbesar pada diri sendiri terhadap keputusan yang diambil semasa hidup. Mohon bimbinganMU ya Rabb, mohon kekuatanMU ya Malik, mohon iba & ampunanMU ya Ilah.
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNYA dalam (menjalankan) diin yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah diin yang lurus. — Terjemah QS Al-Bayyinah (98) : 5
[video]
Dikatakan bahwa saat paling gelap gulita di malam hari hadir tepat sebelum fajar menyingsing. — Paulo Coelho - Sang Alkemis
Isti’anah, istiqamah, dan istitha’ah.
There’s no certainty - only opportunity. — V - V for Vendetta [2006]
Repot berdakwah adalah suatu kebahagiaan, ia membuat kita tak ada waktu meratapi penderitaan. Sibuk kesana kemari menanamkan iman kepada orang lain adalah suatu kegembiraan, ia membuat kita dg nyata merasakan kehidupan ini. Kelelahan membangun syariat ALLAH adalah suatu kenikmatan, ia membuat kita tak ada waktu untuk berkhayal. — (Hasan Al Banna)
(Source: afifahnashr)
definitely, He did :)
(Source: icanread, via afifahnashr)